TERJEMAH: THE ALCHEMYST (THE SECRETS OF THE IMMORTAL NICHOLAS FLAMEL) CHAPTER 1 - PART 2
"Mungkin mereka Mafia," Elle memikirnya secara dramatis, "Ayahku tahu seseorang di Mafia. Tetapi dia mengendarai Prius," tambahnya.
"Ini sudah jelas kalau bukan Prius," kata Sophie, dia melihat lagi mobil itu dan dua lelaki yang berdiri di jalan, dalam balutan matel berat, sarung tangan dan topi. Mata mereka tersembunyi dibalik kacamata hitam besar.
"Mungkin mereka hanya kedinginan," pikir Elle. "Apakah di San Fransisco tidak dingin?"
Sophie Newman melirik jam dan termometer di dinding di balik konter di belakangnya. "Sekarang jam dua lebih lima belas . . . dan delapan puluh satu derajat," katanya. "Percayalah, mereka tidak kedinginan. Mereka pasti sekarat. Tunggu," ucapnya menginterupsi dirinya sendiri, "sesuatu terjadi."
Pintu depan mobil terbuka dan lelaki lain, bahkan lebih besar dari kedua lelaki sebelumnya, keluar dengan kaku dari mobil. Sembari ia menutup mobil, cahaya matahri secara singkat mengenai wajahnya dan Sophie menyaksikan sekilas wajahnya yang pucat, tidak sehat dan kulitnya yang abu-abu. Dia menyesuaikan volume di headset-nya. "OK, kamu harus melihat apa yang baru saja muncul dari mobil. Laki-laki besar dengan kulit abu-abu. Abu-abu. Itu mungkin menjelaskannya; mungkin mereka memiliki suatu kondisi kulit."
"Aku melihat sebuah dokumenter National Geographic tentang orang-orang yang tidak bisa keluar di siang hari . . . ," Elle memulai, tapi Sophie tidak lagi mendengarkannya.
Figur ke empat keluar dari mobil.
Dia kecil, lelaki yang tampah lebih rapi, memakai setelan three-piece berwarna arang abu-abu yang secara samar terlihat old-fashion tapi Sophie dapat mengetahui bahwa bajunya dijahit khusus untuknya. Rambut abu-abu ditarik kebelakang dari wajah kurusnya menjadi ponytail tingggi, sementara jenggotnya masih hitam namun dengan sedikit uban, menutipi mulut dan dagunya. Dia menjauhi mobil dan melangkah ke bawah tenda bergaris yang menutupi rak buku di depan toko. Ketika dia mengambil buku bersampul tipis dengan warna cerah dan mebaliknya dengan tangan, Sophie menyadari bahwa dia memakai sarung tangan abu-abu. Sebuah kancing mutiara di pergelangannya berkilau dalam cahaya.
"Mereka sedang masuk ke dalam toko buku," katanya di headset.
"Apakah Josh masih bekerja disana?" Elle tiba-tiba bertanya.
(Bersambung)
"Ini sudah jelas kalau bukan Prius," kata Sophie, dia melihat lagi mobil itu dan dua lelaki yang berdiri di jalan, dalam balutan matel berat, sarung tangan dan topi. Mata mereka tersembunyi dibalik kacamata hitam besar.
"Mungkin mereka hanya kedinginan," pikir Elle. "Apakah di San Fransisco tidak dingin?"
Sophie Newman melirik jam dan termometer di dinding di balik konter di belakangnya. "Sekarang jam dua lebih lima belas . . . dan delapan puluh satu derajat," katanya. "Percayalah, mereka tidak kedinginan. Mereka pasti sekarat. Tunggu," ucapnya menginterupsi dirinya sendiri, "sesuatu terjadi."
Pintu depan mobil terbuka dan lelaki lain, bahkan lebih besar dari kedua lelaki sebelumnya, keluar dengan kaku dari mobil. Sembari ia menutup mobil, cahaya matahri secara singkat mengenai wajahnya dan Sophie menyaksikan sekilas wajahnya yang pucat, tidak sehat dan kulitnya yang abu-abu. Dia menyesuaikan volume di headset-nya. "OK, kamu harus melihat apa yang baru saja muncul dari mobil. Laki-laki besar dengan kulit abu-abu. Abu-abu. Itu mungkin menjelaskannya; mungkin mereka memiliki suatu kondisi kulit."
"Aku melihat sebuah dokumenter National Geographic tentang orang-orang yang tidak bisa keluar di siang hari . . . ," Elle memulai, tapi Sophie tidak lagi mendengarkannya.
Figur ke empat keluar dari mobil.
Dia kecil, lelaki yang tampah lebih rapi, memakai setelan three-piece berwarna arang abu-abu yang secara samar terlihat old-fashion tapi Sophie dapat mengetahui bahwa bajunya dijahit khusus untuknya. Rambut abu-abu ditarik kebelakang dari wajah kurusnya menjadi ponytail tingggi, sementara jenggotnya masih hitam namun dengan sedikit uban, menutipi mulut dan dagunya. Dia menjauhi mobil dan melangkah ke bawah tenda bergaris yang menutupi rak buku di depan toko. Ketika dia mengambil buku bersampul tipis dengan warna cerah dan mebaliknya dengan tangan, Sophie menyadari bahwa dia memakai sarung tangan abu-abu. Sebuah kancing mutiara di pergelangannya berkilau dalam cahaya.
"Mereka sedang masuk ke dalam toko buku," katanya di headset.
"Apakah Josh masih bekerja disana?" Elle tiba-tiba bertanya.
(Bersambung)
Comments
Post a Comment